Biar Beda Masbero

Bismillahi

“Biar beda masbero!” Jawab Encep ketika ditanya Ujang dengan polos, “Ari rambut Encep naha jigrak-jigrak kitu siga rambut maung?”. (terjemahin sendiri :p)

Yaaah, pokoknya Encep ini tipe orang yang gaol gela lah. Mungkin dalam definisinya si Encep, gaol adalah beda. Lo mau gaul dan exist? Tampil beda dong! Dan di zaman yang serba gaol ini, ga sedikit Encep-encep yang beredar di Bandung mempertontonkan “perbedaan”-nya *kita ambil contoh Bandung karena saya tinggal di Bandung, kota kuliner*

Rambut cuma salah satu dari objek yang dieksploitasi oleh anak gaol seperti Encep. Terlalu banyak objek lain yang suka dijadikan “alat pembeda” seperti makanan, pakaian, kendaraan, bahkan binatang peliharaan karena ada orang yang melihara singa (karena kucing udah terlalu mainstream). Tapi yang saya belum nemu adalah orang yang bilang mainstream ke orang lain yang bernafas dengan udara

Dadang: “Lo nafas pake apa, bero?”

Wawan: “Ya pake udara tho kang”

Dadang: “Ah mainstream bero! Gw dong nafas pake kentut! Oh yeaaaaah!”

Wawan: “…..”

Contoh lain yang biasanya dipake buat ajang tampil beda oleh banyak orang adalah pernikahan, yes?! Iyeees dong *jadi inget rekaman penipu ATM yang malah ditipu tempo hari, lol*.

Ada pasangan yang menikah di atas bambu. Ada juga yang menikah di bawah laut. *bukan spongebob, klik aja linknyaaaaa!*. Lain lagi di Indonesia. Ada yang menikah dengan cara menginjak telur atau dimandiin di ruangan terbuka. Ada juga yang sebelum menikah, pake berantem dulu. *Yey Indonesia!*
Injak Telur

Semuanya dilakukan dengan alasan untuk tampil beda. Mereka ga mau menikah dengan prosesi yang biasa-biasa saja. Walaupun di dalamnya ada hal-hal yang melanggar norma agama, mereka tetap melakukannya dengan bangga, antusias dan sangat excited. Sebodo amat orang mau bilang apa.

Bahkan, orang yang hadir pun ga merasa aneh dengan “keunikan” prosesi pernikahan yang mereka datangi. Mereka malah mawas diri, “Waduh, kok saya kayak kuno gini ya, ini buat apa ya?, itu boleh dimakan ga ya?”. Ada juga yang sampai meng-apresiasi “Waah prosesi pernikahan anak jaman sekarang unik banget ya”

Tapi miris, ketika ada umat islam yang ingin menikah dengan cara yang islami, muncul banyak pikiran yang menghantui:

“Aduh nanti dibilang aneh sama orang”

“Aduh nanti aku malah dijauhin di masyarakat”

“nanti ini itu begini begitu bla bla bla”

Atau muncul komentar-komentar yang miring dari orang lain:

“Kok laki-laki sama perempuannya dipisah sih, kan tabu”

“Wah jangan-jangan udah hamil tuh, masa pengantin cewenya ga dipajang di pelaminan”

“Dih sepi banget kayak kuburan, masa ga ada musiknya”

“Ih kok kayak gini kayak gitu”

Ntah kemana perginya semangat tampil beda yang biasa dimiliki anak-anak muda?! Padahal “beda” yang ini sesuai dengan tuntunan syariat. “Beda” yang ini bernilai pahala. Tapi di kondisi ini mereka lebih memilih aman, malu dan takut tampil beda. Ntah kemana pula perginya rasa mawas diri dan sikap meng-apresiasi dari para tamu undangan?!

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.

(HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sampai di titik “beda” saja sih sebenarnya ga jadi soal. Bosen makan ini, pengen makan itu. Semua orang pake ini, kita pengen pake itu. Biar tampil beda. No big deal! Yang jadi masalah adalah ketika perbedaan kita itu melanggar aturan syariat agama yang berakibat dosa. Orang lain pake jilbab panjang yang rapih, kita maunya pake jilbab pendek + kaos lengan pendek. Orang lain mandi di ruangan tertutup, kita malah mandi di luar pas nikah sambil diliatin orang banyak. Nah, itu baru BIG deal!

Beda oke masbero. Melanggar syariat tetep NO!

Advertisements

Nangis

Iba. Mungkin itu yang kita rasakan ketika melihat seorang wanita kecil menangis karena penderitaan yang dialaminya. “Ah, tak seharusnya mereka mengalami penderitaan itu”, pikir kita. Tapi siapa kita yang mampu mencegah hal itu ketika Dzat yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya berkehendak menimpakan musibah kepadanya. Lagipula Allah Maha Teliti perhitungannya dan setiap takdir yang ditentukannya memiliki hikmah yang sangat besar. Pikiran manusia saja yang seringkali tidak bisa menjangkau hikmah dari takdir Allah.

Dari seorang wanita kecil, kita beralih ke seorang pemuda dewasa. Sama halnya dengan wanita kecil tadi, pemuda dewasa ini juga sedang menangis. Bedanya, karena kedewasaannya, pemuda ini menangis sesenggukan sambil memacu motornya dengan kecepatan tinggi *untung ga lagi turun hujan*

Setiap teringat project GITS yang saya tangani empat tahun lalu, saya selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengolok-ngolok diri saya sendiri. haha. Masalahnya biasa kok, cuma sebuah project on-site scope-based yang direncanakan selesai dalam dua bulan ternyata setelah setahun belum menunjukkan gejala-gejala akan diakhiri dan kebetulan saya jadi project managernya yang membawahi temen-temen saya sendiri yang kami ketika itu sedang mengerjakan tugas akhir yang akhirnya salah dua dari temen saya itu diundur kelulusannya karena kesibukan projectnya. Se-biasa itu #straightface.

Bayangkan sebuah balok kayu yang besar kita sandarkan kepada pagar yang terbuat dari selembar triplek. Bukannya menopang, pagar triplek itu malah jatuh remuk tertimpa oleh balok kayu yang besar tadi. Itulah kira-kira yang terjadi pada saya ketika itu. Ketika kita menyandarkan masalah yang kita hadapi kepada diri kita sendiri, yang ada cuma depresi atau stress. Ga sedikit kasus orang yang stress atau bunuh diri karena terlibat hutang, karena pacarnya selingkuh, karena ga lulus ujian, atau karena alasan lainnya. Masalah kehidupan begitu besar dan terus menerus sementara jiwa kita begitu kecil dan rapuh.

Disinilah peran tawakal, yaitu kita menyandarkan diri dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah yang menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit, setelah kita menempuh sebab berupa usaha yang maksimal. Dan harus kita sadari, seburuk apapun musibah yang kita alami, itu hanyalah musibah dunia. Musibah sesungguhnya adalah ketika kita tertimpa musibah dunia, kita lantas membenci Sang Pembuat Takdir atau melakukan sesuatu yang akan membuat kita tertimpa musibah akhirat. Seperti seseorang yang bosan hidup miskin, dia memutuskan untuk datang ke dukun atau bunuh diri. Hidup miskin adalah musibah bagi dia. Tapi itu hanya merusak dunianya. Namun ketika dia datang ke dukun atau bunuh diri, maka dia telah merusak alam abadi yang akan dia tempati nanti setelah mati.

Sayang, karena ditolak cewe satu dua orang terus kita depresi. Karena deadline project terus kita nangis-nangis sesenggukan di motor. Karena ga lulus ujian kita jadi males makan. Sayang, kehilangan yang sedikit tapi menghabiskan porsi yang besar di hati kita. Padahal setiap musibah yang menimpa kita memiliki manfaat yang besar jika kita bersabar.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]

Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

Further reading: