Pulpen Merah

Semester ini, saya kerapkali ditemani oleh kertas jawaban, pulpen merah (yang selalu hilang lalu beli lagi yang baru), dan secangkir teh manis hangat bikinan ummu nya Hasna. Ngoreksi. Salah satu aktifitas baru saya sebagai dosen di Fasilkom Unsri. Awalnya sih tidak terlalu terasa. Karena memang satu semester, dosen cuma mengoreksi dua kali: ketika UTS dan UAS. Itupun ada honornya ;p Tapi semua berubah ketika negara api menyerang semester lalu, saya merasa kecolongan. Ada mahasiswa saya menjelang UAS, belum memahami betul cara menggunakan skema pemilihan (IF statement). Dari sana dengan polosnya saya menyusun rencana agar tidak kecolongan lagi, saya perlu mengevaluasi mahasiswa lebih awal dan lebih sering. “Kuis tiap dua minggu!” pikir Rahmat Cerdas Berdasi di dalam sana. Itulah awal semuanya. Awal dari aktifitas saya mengoreksi tiap dua minggu sekali -_-

photo

Pulpen merah in action. Jawaban yang salah dilahapnya dengan tanda silang besar. Puas sekali rasanya ;p Muncul ego berbisik, “Ah mahasiswa belum bisa apa-apa. Masih jauh di bawah saya”, sambil berpura-pura lupa bahwa itu adalah hasil karyanya sendiri. Sambil terus mengoreksi (karena ada tiga kelas pemrograman yang saya ajar dengan rata-rata mahasiswa 40 orang), terlintas tayangan berita yang santer diberitakan oleh media: FPI vs Ahok. FPI yang menolak Ahok menjadi Gubernur DKI dan Ahok yang meminta pembubaran FPI.

Merenung saya memikirkan korban pulpen merah. Muncul kekhawatiran yang sama dengan FPI. Ketika media memberikan cap yang salah kepada FPI tanpa merinci kesalahannya, saya khawatir masyarakat umum akan menganggap semua hal yang menempel pada FPI adalah salah. Pasangan yang pas memang: informasi yang tidak rinci dan masyarakat yang tidak kritis. Akibatnya, muncul kesimpulan asal dari logika yang ngawur. Karena FPI salah, maka celana cingkrang sesat. Atau kasus kemarin, karena ISIS berbahaya maka cadar berbahaya. Dan kekhawatiran puncak dari pernyataan umum tanpa perincian dari label FPI yang salah adalah pandangan umat islam bahwa tidak mengapa mengangkat pemimpin dari kalangan non-muslim. Padahal Rabb yang menguasai hari pembalasan nanti telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (QS. Al Maidah: 51)

http://muslim.or.id/tafsir/menjadikan-orang-kafir-sebagai-auliya.html

Patutlah kita sering mendengar dan membaca bahwa ulama rinci ketika menjawab pertanyaan yang perlu dirinci dan menolak menjawab pertanyaan yang memerlukan jawaban rinci tapi waktu menjawabnya terbatas. Oke bahwa beberapa aksi anarkis FPI adalah suatu kesalahan. Tapi ketidakinginan mereka Jakarta dipimpin oleh non-muslim juga wajib kita miliki.

Pulpen merah kini tidak sebengis dahulu. Ada bagian jawaban mahasiswa yang perlu dirinci ketika menilai. Agar mereka tidak salah sangka. Bahwa dalam jawaban mereka, ada beberapa langkah yang sudah benar, tapi ada langkah yang perlu diperbaiki. Lebih lelah memang. Tapi biarlah. Bukankah Kitab Itu tidak akan meluputkan hal sekecil apapun nanti di Hari Perhitungan !?