All posts by pempeklenjer

#savejalanplglayo

Kalau Anda sudah membaca tulisan saya tentang layologic, maka jangankan Anda, saya sebagai penulis pun merasa bahwa kasus wisuda batal yang saya kisahkan di sana terkesan dramatis sekali. Terkesan bahwa itu adalah puncak dari segala kasus yang pernah terjadi di jalanan negara itu. Tapi kesan itu seakan hilang sekarang. Kalau Anda coba melintas di jalanan itu hari ini, maka seakan-akan kasus wisuda batal sudah menjadi hal biasa bagi Universitas Sriwijaya. Mungkin karena sudah merasa sangat terganggu, mahasiswa Unsri akhirnya ambil tindakan. Aksi. Seperti yang dikicaukan oleh akun twitter @BEM-KMUnsri kemarin.

Besok adalah Aksi Puncak kami , untuk menuntut perbaikan atas jalan plg layo, tunggu kami pak   

Reaksi tentang hal yang sama juga sedang marak dalam salah satu petisi di laman web change.org melalui petisi yang berjudul “Mempetisi Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin #SaveJalanPlgLayo”

Dua reaksi yang umumnya berisi jeritan, tuntutan, pemenuhan hak. Tolong saya dipahamkan, tapi sudah lama saya menangkap kesan, ya yang namanya rakyat memang harus menuntut, yang namanya rakyat memang yang didengar jeritannya, yang namanya rakyat harus dipenuhi haknya. Ini serius, tolong saya dibisikin jawabannya ya.

Nah, saya akan memulai reaksi yang ketiga. Kita manfaatkan saja hashtag #SaveJalanPlgLayo. Tapi kali ini, kita ganti penggunaannya. Bukan hanya untuk diisi dengan tweet curhat, tapi untuk diisi dengan data dan fakta kenapa jalan Palembang – Inderalaya ini sudah darurat untuk diselamatkan. Kalau Anda sudah nonton film Transformer yang kedua, ingat-ingat bagian dimana sebagian tentara dan autobots nya ada di Mesir dan koneksi mereka terputus dengan pangkalan pusat. Apakah pangkalan pusat dapat langsung mengirimkan kapal selam, pempek lenjerpesawat tempur, kapal induk dan dukungan tempur lainnya sebelum ada data dukung yang cukup? Nope! Mereka luncurkan dulu pesawat kecil tanpa awak untuk mengumpulkan data. Data yang akan dijadikan pijakan tindakan mereka. Kita akan gunakan cara yang sama!

Bagi Anda yang suka ngetweet, instead of ngumpat di jalan ketika macet, foto lah suasana kemacetan atau penyebab kemacetan lalu Tweet! Atau tulislah penyebab dan deskripsi di kemacetan. Tentu saja dengan menambahkan #SaveJalanPlgLayo dan waktu kejadian. Buat Anda yang suka ngegram, daripada sibuk selfie di kemacetan, foto lah suasana kemacetan atau penyebab kemacetan lalu upload lah di Instagram Anda. Tentu saja dengan hashtag #SaveJalanPlgLayo. Dengan begini, semoga pemerintah akan terbantu karena  mempunyai data dukung yang kuat untuk mengambil tindakan.

Kita pakai #SaveJalanPlgLayo bukan @SaveJalanPlgLayo, agar datanya menjadi umum. Siapa saja boleh memanfaatkannya. Buat Tugas Akhir kah, penelitian kah, bikin proposal kah, buat analisis, reporting, dashboard, infografis, terserah. Yang jelas untuk tujuan yang sama, agar jalanan negara ini diselamatkan. Tapi dengan cara yang baik. Karena serapih-rapihnya aksi massa diatur agar tidak anarkis, paling tidak akan membuat kemacetan. Cukup aneh kalau kita menjerit jalanan macet tapi solusi kita dengan juga membuat macet!

Hal teknis lainnya, setau saya hashtag twitter itu cepet kadaluarsa. Oleh karena itu butuh orang keren untuk menarik data yang sudah ada agar tidak hilang. Lalu orang kece lainnya untuk sesegera mungkin membuat infografis dari data yang sudah ada secara realtime. Jadi kita akan cepat melihat, dalam seminggu ini sudah berapa kali terjadi mobil batubara tertidur di jalanan, sudah berapa kali kemacetan. kemacetan terparah terjadi berapa jam, dan lain-lain.

Mari kita beraksi. Tapi dengan aksi yang selayaknya dilakukan oleh generasi yang sudah mengecap pendidikan minimal 12 tahun. Pelajar, mahasiswa, dosen, dan orang terdidik lainnya adalah pihak yang mendapatkan hak istimewa(privilege) berupa kesempatan mengecap pendidikan. Maka pergunakanlah dan jadilah berguna!

Allah Ta’ala berfirman:

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS. Al-Isra: 36)  http://muslimah.or.id/akhlak-dan-nasehat/manisnya-buah-menjaga-lisan.html

Update:

Contoh tweet yang diharapkan dari salah satu timeline #savejalanplglayo:

Advertisements

#layologic

Rasanya tidak berlebihan kalau dikatakan proses pendidikan Universitas Sriwijaya ada di kaki para sopir truk. Bukan sekali dua kali saja perkuliahan di Inderalaya terpaksa ditunda karena dosen terjebak macet di jalanan Palembang-inderalaya. Penyebabnya yang paling sering adalah si komo lewat tergulingnya truk di tengah jalan akibat kaki para sopir truk tidak cukup lihai menghadapi buasnya jalanan atau kondisi truk yang memang sudah seharusnya dikandangkan.

SRIPOKU.COM: Truk Ekspedisi Patah As, Jalur Palembang-Indralaya Macet

Kalau sudah begitu, jangankan perkuliahan, ujian dan bahkan wisuda pun terancam batal. Pernah saya diceritakan,  wisuda Unsri nyaris dibatalkan karena ibu rektor menjadi korban kemacetan parah di jalanan itu. Untung saja pada saat itu, posisi rektor masih di dekat Palembang sehingga segera diambil inisiatif untuk meluncurkan rektor menggunakan kereta api. Kereta api yang kini sudah menjadi legenda (saya akan ceritakan di lain tulisan tentang si Thomas). Oooh, dan jangan sampai saya terjebak kemacetan di dalam bis yang sopirnya memutar lagu dangdut koplo yang dapat menurunkan IQ beberapa poin.

Kalau di ibukota, mereka menyebutnya Jakarta Logic. It’s called so just because the simple logic doesn’t apply there. Kalau di tempat lain jarak 50 Km bisa ditempuh hanya dalam waktu kurang dari 1 jam, maka tidak di Jakarta. Kalau Anda melalui suatu jalan di Jakarta pada jam tertentu cuma memakan waktu beberapa menit, maka mungkin di jam yang lain Anda akan menghabiskan waktu berjam-jam untuk menikmati pemandangan yang sama. Di sini, kami punya inderalaya logic.

Bagai jerawat di hidung bagian tengah yang selalu mengundang untuk dipencet, masalah ini terlalu mempesona untuk dilewatkan. Harus ada orang yang memecahkan jerawat merah itu. Sudah terlalu lama dia bercokol disana. Teknologinya bukan belum ada. Waze yang fenomenal itu sudah melakukannya. Location service yang diracik dengan statistik. Sepertinya akan menjadi ramuan ampuh untuk mengetahui segala misteri di jalanan ini: apa penyebab kemacetan, daerah mana yang menjadi bottle neck, kapan waktu yang tepat untuk bepergian dan kapan waktu yang tidak disarankan untuk bepergian, bahkan sampai kondisi jalanan saat ini, dan lain-lain. Ramuan yang bisa diminum oleh Unsri untuk meninjau ulang penjadwalan perkuliahan. Ramuan yang juga sangat sehat bagi perusahaan yang rutin mengirimkan armadanya melewati jalanan ini. Dan tentu saja, agar pengguna jalanan palembang-inderalaya dapat mengetahui musuh apa yang akan mereka hadapi di jalanan sebelum mereka berkemas.

Kalau ada mahasiswa yang berminat melakukan penelitian untuk tugas akhir dengan domain jalanan ini, saya insya Allah siap diajak bekerja sama. Saya juga terbuka kalau ada pembaca yang ingin berbagi solusi untuk masalah ini. Inginnya sih, saya akan membuat beberapa tulisan dan penelitian tentang #layologic. Semoga istiqomah.

مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِـسَبُـهُ

“Barangsiapa yang melapangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh melapangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.” (1)

Referensi:

  1. http://almanhaj.or.id/content/3595/slash/0/membantu-kesulitan-sesama-muslim-dan-menuntut-ilmu-jalan-menuju-surga-1/

Pulpen Merah

Semester ini, saya kerapkali ditemani oleh kertas jawaban, pulpen merah (yang selalu hilang lalu beli lagi yang baru), dan secangkir teh manis hangat bikinan ummu nya Hasna. Ngoreksi. Salah satu aktifitas baru saya sebagai dosen di Fasilkom Unsri. Awalnya sih tidak terlalu terasa. Karena memang satu semester, dosen cuma mengoreksi dua kali: ketika UTS dan UAS. Itupun ada honornya ;p Tapi semua berubah ketika negara api menyerang semester lalu, saya merasa kecolongan. Ada mahasiswa saya menjelang UAS, belum memahami betul cara menggunakan skema pemilihan (IF statement). Dari sana dengan polosnya saya menyusun rencana agar tidak kecolongan lagi, saya perlu mengevaluasi mahasiswa lebih awal dan lebih sering. “Kuis tiap dua minggu!” pikir Rahmat Cerdas Berdasi di dalam sana. Itulah awal semuanya. Awal dari aktifitas saya mengoreksi tiap dua minggu sekali -_-

photo

Pulpen merah in action. Jawaban yang salah dilahapnya dengan tanda silang besar. Puas sekali rasanya ;p Muncul ego berbisik, “Ah mahasiswa belum bisa apa-apa. Masih jauh di bawah saya”, sambil berpura-pura lupa bahwa itu adalah hasil karyanya sendiri. Sambil terus mengoreksi (karena ada tiga kelas pemrograman yang saya ajar dengan rata-rata mahasiswa 40 orang), terlintas tayangan berita yang santer diberitakan oleh media: FPI vs Ahok. FPI yang menolak Ahok menjadi Gubernur DKI dan Ahok yang meminta pembubaran FPI.

Merenung saya memikirkan korban pulpen merah. Muncul kekhawatiran yang sama dengan FPI. Ketika media memberikan cap yang salah kepada FPI tanpa merinci kesalahannya, saya khawatir masyarakat umum akan menganggap semua hal yang menempel pada FPI adalah salah. Pasangan yang pas memang: informasi yang tidak rinci dan masyarakat yang tidak kritis. Akibatnya, muncul kesimpulan asal dari logika yang ngawur. Karena FPI salah, maka celana cingkrang sesat. Atau kasus kemarin, karena ISIS berbahaya maka cadar berbahaya. Dan kekhawatiran puncak dari pernyataan umum tanpa perincian dari label FPI yang salah adalah pandangan umat islam bahwa tidak mengapa mengangkat pemimpin dari kalangan non-muslim. Padahal Rabb yang menguasai hari pembalasan nanti telah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi auliya bagimu; sebahagian mereka adalah auliya bagi sebahagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi auliya, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim” (QS. Al Maidah: 51)

http://muslim.or.id/tafsir/menjadikan-orang-kafir-sebagai-auliya.html

Patutlah kita sering mendengar dan membaca bahwa ulama rinci ketika menjawab pertanyaan yang perlu dirinci dan menolak menjawab pertanyaan yang memerlukan jawaban rinci tapi waktu menjawabnya terbatas. Oke bahwa beberapa aksi anarkis FPI adalah suatu kesalahan. Tapi ketidakinginan mereka Jakarta dipimpin oleh non-muslim juga wajib kita miliki.

Pulpen merah kini tidak sebengis dahulu. Ada bagian jawaban mahasiswa yang perlu dirinci ketika menilai. Agar mereka tidak salah sangka. Bahwa dalam jawaban mereka, ada beberapa langkah yang sudah benar, tapi ada langkah yang perlu diperbaiki. Lebih lelah memang. Tapi biarlah. Bukankah Kitab Itu tidak akan meluputkan hal sekecil apapun nanti di Hari Perhitungan !?

Fase Palembang

Pada tulisan terakhir, penulis adalah seorang HR Manager di PT. GITS Indonesia, mahasiswa magister di Program Studi Informatika ITB, dan seorang top quality jomblo yang berdomisili di Bandung.


Sekarang alhamdulillah penulis sudah menyelesaikan program magister, sudah menikah dan memiliki seorang anak muslimah, dan sedang mencoba untuk memperbaiki Indonesia melalui pendidikan sebagai dosen tetap di Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia.

Penulis insyaAllah akan memberikan warna berbeda pada tulisan-tulisan berikutnya.
Semoga berkah.

_taman unsri bukit

Biar Beda Masbero

Bismillahi

“Biar beda masbero!” Jawab Encep ketika ditanya Ujang dengan polos, “Ari rambut Encep naha jigrak-jigrak kitu siga rambut maung?”. (terjemahin sendiri :p)

Yaaah, pokoknya Encep ini tipe orang yang gaol gela lah. Mungkin dalam definisinya si Encep, gaol adalah beda. Lo mau gaul dan exist? Tampil beda dong! Dan di zaman yang serba gaol ini, ga sedikit Encep-encep yang beredar di Bandung mempertontonkan “perbedaan”-nya *kita ambil contoh Bandung karena saya tinggal di Bandung, kota kuliner*

Rambut cuma salah satu dari objek yang dieksploitasi oleh anak gaol seperti Encep. Terlalu banyak objek lain yang suka dijadikan “alat pembeda” seperti makanan, pakaian, kendaraan, bahkan binatang peliharaan karena ada orang yang melihara singa (karena kucing udah terlalu mainstream). Tapi yang saya belum nemu adalah orang yang bilang mainstream ke orang lain yang bernafas dengan udara

Dadang: “Lo nafas pake apa, bero?”

Wawan: “Ya pake udara tho kang”

Dadang: “Ah mainstream bero! Gw dong nafas pake kentut! Oh yeaaaaah!”

Wawan: “…..”

Contoh lain yang biasanya dipake buat ajang tampil beda oleh banyak orang adalah pernikahan, yes?! Iyeees dong *jadi inget rekaman penipu ATM yang malah ditipu tempo hari, lol*.

Ada pasangan yang menikah di atas bambu. Ada juga yang menikah di bawah laut. *bukan spongebob, klik aja linknyaaaaa!*. Lain lagi di Indonesia. Ada yang menikah dengan cara menginjak telur atau dimandiin di ruangan terbuka. Ada juga yang sebelum menikah, pake berantem dulu. *Yey Indonesia!*
Injak Telur

Semuanya dilakukan dengan alasan untuk tampil beda. Mereka ga mau menikah dengan prosesi yang biasa-biasa saja. Walaupun di dalamnya ada hal-hal yang melanggar norma agama, mereka tetap melakukannya dengan bangga, antusias dan sangat excited. Sebodo amat orang mau bilang apa.

Bahkan, orang yang hadir pun ga merasa aneh dengan “keunikan” prosesi pernikahan yang mereka datangi. Mereka malah mawas diri, “Waduh, kok saya kayak kuno gini ya, ini buat apa ya?, itu boleh dimakan ga ya?”. Ada juga yang sampai meng-apresiasi “Waah prosesi pernikahan anak jaman sekarang unik banget ya”

Tapi miris, ketika ada umat islam yang ingin menikah dengan cara yang islami, muncul banyak pikiran yang menghantui:

“Aduh nanti dibilang aneh sama orang”

“Aduh nanti aku malah dijauhin di masyarakat”

“nanti ini itu begini begitu bla bla bla”

Atau muncul komentar-komentar yang miring dari orang lain:

“Kok laki-laki sama perempuannya dipisah sih, kan tabu”

“Wah jangan-jangan udah hamil tuh, masa pengantin cewenya ga dipajang di pelaminan”

“Dih sepi banget kayak kuburan, masa ga ada musiknya”

“Ih kok kayak gini kayak gitu”

Ntah kemana perginya semangat tampil beda yang biasa dimiliki anak-anak muda?! Padahal “beda” yang ini sesuai dengan tuntunan syariat. “Beda” yang ini bernilai pahala. Tapi di kondisi ini mereka lebih memilih aman, malu dan takut tampil beda. Ntah kemana pula perginya rasa mawas diri dan sikap meng-apresiasi dari para tamu undangan?!

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.

(HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sampai di titik “beda” saja sih sebenarnya ga jadi soal. Bosen makan ini, pengen makan itu. Semua orang pake ini, kita pengen pake itu. Biar tampil beda. No big deal! Yang jadi masalah adalah ketika perbedaan kita itu melanggar aturan syariat agama yang berakibat dosa. Orang lain pake jilbab panjang yang rapih, kita maunya pake jilbab pendek + kaos lengan pendek. Orang lain mandi di ruangan tertutup, kita malah mandi di luar pas nikah sambil diliatin orang banyak. Nah, itu baru BIG deal!

Beda oke masbero. Melanggar syariat tetep NO!

Nangis

Iba. Mungkin itu yang kita rasakan ketika melihat seorang wanita kecil menangis karena penderitaan yang dialaminya. “Ah, tak seharusnya mereka mengalami penderitaan itu”, pikir kita. Tapi siapa kita yang mampu mencegah hal itu ketika Dzat yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya berkehendak menimpakan musibah kepadanya. Lagipula Allah Maha Teliti perhitungannya dan setiap takdir yang ditentukannya memiliki hikmah yang sangat besar. Pikiran manusia saja yang seringkali tidak bisa menjangkau hikmah dari takdir Allah.

Dari seorang wanita kecil, kita beralih ke seorang pemuda dewasa. Sama halnya dengan wanita kecil tadi, pemuda dewasa ini juga sedang menangis. Bedanya, karena kedewasaannya, pemuda ini menangis sesenggukan sambil memacu motornya dengan kecepatan tinggi *untung ga lagi turun hujan*

Setiap teringat project GITS yang saya tangani empat tahun lalu, saya selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengolok-ngolok diri saya sendiri. haha. Masalahnya biasa kok, cuma sebuah project on-site scope-based yang direncanakan selesai dalam dua bulan ternyata setelah setahun belum menunjukkan gejala-gejala akan diakhiri dan kebetulan saya jadi project managernya yang membawahi temen-temen saya sendiri yang kami ketika itu sedang mengerjakan tugas akhir yang akhirnya salah dua dari temen saya itu diundur kelulusannya karena kesibukan projectnya. Se-biasa itu #straightface.

Bayangkan sebuah balok kayu yang besar kita sandarkan kepada pagar yang terbuat dari selembar triplek. Bukannya menopang, pagar triplek itu malah jatuh remuk tertimpa oleh balok kayu yang besar tadi. Itulah kira-kira yang terjadi pada saya ketika itu. Ketika kita menyandarkan masalah yang kita hadapi kepada diri kita sendiri, yang ada cuma depresi atau stress. Ga sedikit kasus orang yang stress atau bunuh diri karena terlibat hutang, karena pacarnya selingkuh, karena ga lulus ujian, atau karena alasan lainnya. Masalah kehidupan begitu besar dan terus menerus sementara jiwa kita begitu kecil dan rapuh.

Disinilah peran tawakal, yaitu kita menyandarkan diri dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah yang menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit, setelah kita menempuh sebab berupa usaha yang maksimal. Dan harus kita sadari, seburuk apapun musibah yang kita alami, itu hanyalah musibah dunia. Musibah sesungguhnya adalah ketika kita tertimpa musibah dunia, kita lantas membenci Sang Pembuat Takdir atau melakukan sesuatu yang akan membuat kita tertimpa musibah akhirat. Seperti seseorang yang bosan hidup miskin, dia memutuskan untuk datang ke dukun atau bunuh diri. Hidup miskin adalah musibah bagi dia. Tapi itu hanya merusak dunianya. Namun ketika dia datang ke dukun atau bunuh diri, maka dia telah merusak alam abadi yang akan dia tempati nanti setelah mati.

Sayang, karena ditolak cewe satu dua orang terus kita depresi. Karena deadline project terus kita nangis-nangis sesenggukan di motor. Karena ga lulus ujian kita jadi males makan. Sayang, kehilangan yang sedikit tapi menghabiskan porsi yang besar di hati kita. Padahal setiap musibah yang menimpa kita memiliki manfaat yang besar jika kita bersabar.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]

Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

Further reading: