Category Archives: Uncategorized

Fase Palembang

Pada tulisan terakhir, penulis adalah seorang HR Manager di PT. GITS Indonesia, mahasiswa magister di Program Studi Informatika ITB, dan seorang top quality jomblo yang berdomisili di Bandung.


Sekarang alhamdulillah penulis sudah menyelesaikan program magister, sudah menikah dan memiliki seorang anak muslimah, dan sedang mencoba untuk memperbaiki Indonesia melalui pendidikan sebagai dosen tetap di Jurusan Sistem Informasi, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Sriwijaya, Palembang, Indonesia.

Penulis insyaAllah akan memberikan warna berbeda pada tulisan-tulisan berikutnya.
Semoga berkah.

_taman unsri bukit

Biar Beda Masbero

Bismillahi

“Biar beda masbero!” Jawab Encep ketika ditanya Ujang dengan polos, “Ari rambut Encep naha jigrak-jigrak kitu siga rambut maung?”. (terjemahin sendiri :p)

Yaaah, pokoknya Encep ini tipe orang yang gaol gela lah. Mungkin dalam definisinya si Encep, gaol adalah beda. Lo mau gaul dan exist? Tampil beda dong! Dan di zaman yang serba gaol ini, ga sedikit Encep-encep yang beredar di Bandung mempertontonkan “perbedaan”-nya *kita ambil contoh Bandung karena saya tinggal di Bandung, kota kuliner*

Rambut cuma salah satu dari objek yang dieksploitasi oleh anak gaol seperti Encep. Terlalu banyak objek lain yang suka dijadikan “alat pembeda” seperti makanan, pakaian, kendaraan, bahkan binatang peliharaan karena ada orang yang melihara singa (karena kucing udah terlalu mainstream). Tapi yang saya belum nemu adalah orang yang bilang mainstream ke orang lain yang bernafas dengan udara

Dadang: “Lo nafas pake apa, bero?”

Wawan: “Ya pake udara tho kang”

Dadang: “Ah mainstream bero! Gw dong nafas pake kentut! Oh yeaaaaah!”

Wawan: “…..”

Contoh lain yang biasanya dipake buat ajang tampil beda oleh banyak orang adalah pernikahan, yes?! Iyeees dong *jadi inget rekaman penipu ATM yang malah ditipu tempo hari, lol*.

Ada pasangan yang menikah di atas bambu. Ada juga yang menikah di bawah laut. *bukan spongebob, klik aja linknyaaaaa!*. Lain lagi di Indonesia. Ada yang menikah dengan cara menginjak telur atau dimandiin di ruangan terbuka. Ada juga yang sebelum menikah, pake berantem dulu. *Yey Indonesia!*
Injak Telur

Semuanya dilakukan dengan alasan untuk tampil beda. Mereka ga mau menikah dengan prosesi yang biasa-biasa saja. Walaupun di dalamnya ada hal-hal yang melanggar norma agama, mereka tetap melakukannya dengan bangga, antusias dan sangat excited. Sebodo amat orang mau bilang apa.

Bahkan, orang yang hadir pun ga merasa aneh dengan “keunikan” prosesi pernikahan yang mereka datangi. Mereka malah mawas diri, “Waduh, kok saya kayak kuno gini ya, ini buat apa ya?, itu boleh dimakan ga ya?”. Ada juga yang sampai meng-apresiasi “Waah prosesi pernikahan anak jaman sekarang unik banget ya”

Tapi miris, ketika ada umat islam yang ingin menikah dengan cara yang islami, muncul banyak pikiran yang menghantui:

“Aduh nanti dibilang aneh sama orang”

“Aduh nanti aku malah dijauhin di masyarakat”

“nanti ini itu begini begitu bla bla bla”

Atau muncul komentar-komentar yang miring dari orang lain:

“Kok laki-laki sama perempuannya dipisah sih, kan tabu”

“Wah jangan-jangan udah hamil tuh, masa pengantin cewenya ga dipajang di pelaminan”

“Dih sepi banget kayak kuburan, masa ga ada musiknya”

“Ih kok kayak gini kayak gitu”

Ntah kemana perginya semangat tampil beda yang biasa dimiliki anak-anak muda?! Padahal “beda” yang ini sesuai dengan tuntunan syariat. “Beda” yang ini bernilai pahala. Tapi di kondisi ini mereka lebih memilih aman, malu dan takut tampil beda. Ntah kemana pula perginya rasa mawas diri dan sikap meng-apresiasi dari para tamu undangan?!

Dari seseorang penduduk Madinah, ia berkata bahwa Mu’awiyah pernah menuliskan surat pada ‘Aisyah -Ummul Mukminin- radhiyallahu ‘anha, di mana ia berkata, “Tuliskanlah padaku suatu nasehat untuk dan jangan engkau perbanyak.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pun menuliskan pada Mu’awiyah, “Salamun ‘alaikum (keselamatan semoga tercurahkan untukmu). Amma ba’du. Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Barangsiapa yang mencari ridho Allah saat manusia tidak suka, maka Allah akan cukupkan dia dari beban manusia. Barangsiapa yang mencari ridho manusia namun Allah itu murka, maka Allah akan biarkan dia bergantung pada manusia.

(HR. Tirmidzi no. 2414 dan Ibnu Hibban no. 276. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sampai di titik “beda” saja sih sebenarnya ga jadi soal. Bosen makan ini, pengen makan itu. Semua orang pake ini, kita pengen pake itu. Biar tampil beda. No big deal! Yang jadi masalah adalah ketika perbedaan kita itu melanggar aturan syariat agama yang berakibat dosa. Orang lain pake jilbab panjang yang rapih, kita maunya pake jilbab pendek + kaos lengan pendek. Orang lain mandi di ruangan tertutup, kita malah mandi di luar pas nikah sambil diliatin orang banyak. Nah, itu baru BIG deal!

Beda oke masbero. Melanggar syariat tetep NO!

Nangis

Iba. Mungkin itu yang kita rasakan ketika melihat seorang wanita kecil menangis karena penderitaan yang dialaminya. “Ah, tak seharusnya mereka mengalami penderitaan itu”, pikir kita. Tapi siapa kita yang mampu mencegah hal itu ketika Dzat yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya berkehendak menimpakan musibah kepadanya. Lagipula Allah Maha Teliti perhitungannya dan setiap takdir yang ditentukannya memiliki hikmah yang sangat besar. Pikiran manusia saja yang seringkali tidak bisa menjangkau hikmah dari takdir Allah.

Dari seorang wanita kecil, kita beralih ke seorang pemuda dewasa. Sama halnya dengan wanita kecil tadi, pemuda dewasa ini juga sedang menangis. Bedanya, karena kedewasaannya, pemuda ini menangis sesenggukan sambil memacu motornya dengan kecepatan tinggi *untung ga lagi turun hujan*

Setiap teringat project GITS yang saya tangani empat tahun lalu, saya selalu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengolok-ngolok diri saya sendiri. haha. Masalahnya biasa kok, cuma sebuah project on-site scope-based yang direncanakan selesai dalam dua bulan ternyata setelah setahun belum menunjukkan gejala-gejala akan diakhiri dan kebetulan saya jadi project managernya yang membawahi temen-temen saya sendiri yang kami ketika itu sedang mengerjakan tugas akhir yang akhirnya salah dua dari temen saya itu diundur kelulusannya karena kesibukan projectnya. Se-biasa itu #straightface.

Bayangkan sebuah balok kayu yang besar kita sandarkan kepada pagar yang terbuat dari selembar triplek. Bukannya menopang, pagar triplek itu malah jatuh remuk tertimpa oleh balok kayu yang besar tadi. Itulah kira-kira yang terjadi pada saya ketika itu. Ketika kita menyandarkan masalah yang kita hadapi kepada diri kita sendiri, yang ada cuma depresi atau stress. Ga sedikit kasus orang yang stress atau bunuh diri karena terlibat hutang, karena pacarnya selingkuh, karena ga lulus ujian, atau karena alasan lainnya. Masalah kehidupan begitu besar dan terus menerus sementara jiwa kita begitu kecil dan rapuh.

Disinilah peran tawakal, yaitu kita menyandarkan diri dan menyerahkan apapun hasilnya kepada Allah yang menggenggam bumi pada hari kiamat dan melipat langit, setelah kita menempuh sebab berupa usaha yang maksimal. Dan harus kita sadari, seburuk apapun musibah yang kita alami, itu hanyalah musibah dunia. Musibah sesungguhnya adalah ketika kita tertimpa musibah dunia, kita lantas membenci Sang Pembuat Takdir atau melakukan sesuatu yang akan membuat kita tertimpa musibah akhirat. Seperti seseorang yang bosan hidup miskin, dia memutuskan untuk datang ke dukun atau bunuh diri. Hidup miskin adalah musibah bagi dia. Tapi itu hanya merusak dunianya. Namun ketika dia datang ke dukun atau bunuh diri, maka dia telah merusak alam abadi yang akan dia tempati nanti setelah mati.

Sayang, karena ditolak cewe satu dua orang terus kita depresi. Karena deadline project terus kita nangis-nangis sesenggukan di motor. Karena ga lulus ujian kita jadi males makan. Sayang, kehilangan yang sedikit tapi menghabiskan porsi yang besar di hati kita. Padahal setiap musibah yang menimpa kita memiliki manfaat yang besar jika kita bersabar.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,”Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. [al Baqarah/2:155-157]

Tidaklah menimpa seorang muslim kelelahan, sakit, kekhawatiran, kesedihan, gangguan dan duka, sampai pun duri yang mengenai dirinya, kecuali Allah akan menghapus dengannya dosa-dosanya.” (Muttafaqun alaih)

Further reading:

Gratis

Bismillahi

Gratis

*senyum-senyum* Kata yang satu ini singkat tapi bermakna sangat dalam ya. Nah, saya baru saja mengalaminya, pemirsah. Ketika beberapa jam yang lalu saya (seperti biasa) titip makan malem ke Ibun. Karena kebetulan kerjaan saya masih ada, dan kerjaan Ibun me-release versi terbaru Toresto Android udah kelar. Pas Ibun udah pulang, saya tanya berapa harga titipan saya. Jawaban Ibun singkat tapi padat “Gratis” :p :p :p

Jadi teringat sebuah kisah ketika saya dan Dudin makan pempek di daerah Sekeloa. Bersama kami, ada rombongan anak muda (ps: kami juga masih anak muda) yang juga sedang makan pempek sambil ngobrol:

Ujang: Eh, diajakin makan tuh sama si Edi.

Budi: Engga ah, kenyang banget gw.

Ujang: Dibayarin lho!

Budi: Yuk Hayuk! *sambil langsung menegakkan badannya*

Memang kata yang satu ini ajaib. Singkat tapi bisa memasukkan kebahagian di hati orang-orang yang mendengarnya. Entah kenapa saya selalu tersenyum kalo inget kisah ini. Mungkin salah satunya karena situasi ini sering kita temui, atau bahkan kita lakoni. Tentunya dengan lakon lebih sering sebagai Budi :p

Si Budi yang dahulunya sering membaca dan menemani ibu ke pasar, sekarang aktifitasnya juga ga terlalu menantang. Nah mungkin sesekali, kita juga harus berani berperan sebagai Edi. Bukankah kita dapet pahala dengan membuat orang lain senang (dengan cara yang benar) atau menghilangkan kesulitan orang lain?

Indomaret Baru

Sejak hari ini, semua tidak akan sama di GITS Indonesia. Pasalnya sejak kemarin, Indomaret membuka cabang baru di jalan Guntursari Wetan. Seberapa jauh itu dari GITS? Sekitar 300 langkah saja, pemirsah! Yes you read it right! Mungkin Kumang dengan kaki berdecit nya pun bisa nyampe ke Indomaret baru ini tanpa keringat.

GITS ke Indomaret Baru
GITS ke Indomaret Baru
Indomaret Baru
Indomaret Baru

 

Mari kita tunggu apa dampaknya. Semoga sih, lebih banyak dampak positif nya daripada dampak negatifnya.

Hujan ngapain?

Bismillahirrahmaanirrahiim

Bayangkan kamu sedang berdiri di depan kaca, sambil merapihkan kerah kemeja, lalu membersihkan sedikit debu di celana yang sudah disetrika. *hmmmm, kurang dramatis* Ga lupa kamu juga mengoleskan minyak rambut ke kepala dan mengolesi pakaian dengan sedikit pafrum tropicana. *masih kurang* Lalu dengan gagahnya, kamu berjalan ke halaman rumah. Tentu saja cara berjalan yang sangaaaaat pelan. Tau dong kenapa. Tentunya biar pakaian ga kusut dan rambut tetap berombak aduhai. *kurang dikiit lagi* Sambil memanggul tas dan menentang kunci motor, kamu menarik nafas dalam-dalam dan berguman penuh keyakinan “calon mertua aku datang” *yak cukup :p*

Lalu, bagaikan hujan di siang bolong, hujan pun benar-benar turun di siang bolong. Dadah calon mertuah :p

Si Jali kaget bukan kepalang melihat hujan turun

Okeee, sudahi imajinasinya ya. Jangan sedih. Itu cuma bayangan doang kok :p Semoga nanti pemirsah yang baca tulisan saya ini dimudahkan ketika datang ke mertuah yah.

Nah, respon orang berbeda-beda ketika ada dalam kondisi seperti ini. Patrick misalnya, mungkin dia bakalan malah maen hujan-hujanan. Ada lagi orang yang tipenya ga mau ambil pusing, mungkin dia masuk lagi ke rumah terus nonton tipi. Tapi secara umum, ada empat kelompok orang ketika rencananya “diganggu” oleh hujan: kelompok pengeluh dan doing nothing, kelompok pengeluh dan doing something, kelompok polos dan doing nothing, yang terakhir kelompok polos dan doing something. Sejelek-jelek kelompok adalah kelompok pertama. Jadi kalau permirsah termasuk di kelompok pertama, segera tobat ya.

Nah biar anggota kelompok pertama ini berkurang, mari kita tulis hal apa yang bisa kita lakukan ketika hujan, alih-alih mengeluh dan ga melakukan apa-apa.

Dzikir & Berdoa

Ini yang terpenting. Pemirsah pasti ga akan mau melewatkan pahala yang bisa didapatkan dengan gampang ketika hujan. Dzikir nya pendek kok

للَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

Allahumma soyyiban nafi’an (Ya Allah, turunkanlah hujan yang bermanfaat)

Semoga dengan dzikir ini, kota kita tercinta bisa terhindar dari banjir seperti yang dialami oleh saudara kita di Jakarta.

Daaan jangan lupa berdoa. Kata Rasulullah, doa orang ketika hujan itu tidak akan ditolak. Jadi kesempatan buat yang mau minta jodoh, dilancarkan tesis dan dimudahkan urusan lainnya.

Sedia payung sebelum hujan

Menarik ketika suatu hari saya maen (baca: ngerjain tesis -red) ke kampus dan suasana ketika itu hujan deras. Di gerbang ganesha saya menjumpai ada seorang bapak yang menjual payung. Wow, sense bisnis bapak ini lumayan juga. Kayaknya sih laku. Soalnya ketika saya lewat disana, terlihat beberapa orang (paling ga) terlihat menanyakan harga payung. The point is, ga susah cari tempat buat beli payung. Jadi, beli payung dan niscaya pemirsah akan keluar dari kelompok pertama tadi

Beli jas hujan.

Khusus untuk bikers, beli jas hujan. Harganya murah kok. Terakhir saya beli harganya sekitar 60K kalo ga salah. Saya beli di jalan Cibadak . Disana banyak yang jual jas hujan dengan harga dan model yang bervariasi.

Bawa Handuk kecil dan baju ganti

Biasanya bagi para bikers, walaupun sudah pakai jas hujan tetep aja kebasahan. Atau pemirsah yang pake payung, tapi saking kencengnya angin, baju tetep basah. Nah, dengan handuk kecil dan baju ganti, pemirsah sudah siap dengan kondisi terburuk. Well, kecuali kamu dengan sangat apes nyemplung ke sungai dan baju gantinya juga basah.

Bawa Plastik/Kantong Kresek

Ini gunanya untuk nyimpen barang-barang yang berharga kayak HP, jam tangan, dompet, laptop, cincin buat mahar, laptop, dan tentunya baju ganti.

Pake Jaket Tebal

Selain air, biasanya hujan juga disertai angin yang kenceng. Jadi, siapkan juga jaket yang tebal biar ga masuk angin

Pelajari Medan

Maksudnya, kamu harus tau tempat-tempat mana saja yang bisa kamu singgahi jika hujan turun pas kamu lagi di jalan. Bisa pom bensin, kebon pisang (ps: biar romantis) (pps: khusus yang sudah menikah), atau paling gampang cafe atau restoran. Untuk yang terakhir, kamu bisa pake aplikasi Toresto di HP kamu. Jadi ga bingung nyari cafe/restoran untuk berteduh dikala hujan.

Nah semoga dengan begitu, kamu akan keluar dari kelompok pengeluh tapi ga melakukan apa-apa. Kalau ada tambahan tips, boleh banget lho ya.